Rabu, 22 April 2009

Patah Tulang ( Fraktur )


reposting by: sterno


Fraktur [Patah Tulang] adalah retaknya tulang, biasanya disertai dengan cedera di jaringan sekitarnya. Jenis patah tulang:
1. Patah tulang tertutup (patah tulang simplek).
Tulang yang patah tidak tampak dari luar.
2. Patah tulang terbuka (patah tulang majemuk).
Tulang yang patah tampak dari luar karena tulang telah menembus kulit atau kulit mengalami robekan.
Patah tulang terbuka lebih mudah terinfeksi.
3. Patah tulang kompresi (patah tulang karena penekanan).
Merupakan akibat dari tenaga yang menggerakkan sebuah tulang melawan tulang lainnya atau tenaga yang menekan melawan panjangnya tulang.
Sering terjadi pada wanita lanjut usia yang tulang belakangnya menjadi rapuh karena osteoporosis.
4. Patah tulang karena tergilas.
Tenaga yang sangat hebat menyebabkan beberapa retakan sehingga terjadi beberapa pecahan tulang.
Jika aliran darah ke bagian tulang yang terkena mengalami gangguan, maka penyembuhannya akan berjalan sangat lambat.
5. Patah tulang avulsi.
disebabkan oleh kontraksi otot yang kuat, sehingga menarik bagian tulang tempat tendon otot tersebut melekat.
Paling sering terjadi pada bahu dan lutut, tetapi bisa juga terjadi pada tungkai dan tumit.
6. Patah tulang patologis.
Terjadi jika sebuah tumor (biasanya kanker) telah tumbuh ke dalam tulang dan menyebabkan tulang menjadi rapuh.
Tulang yang rapuh bisa mengalami patah tulang meskipun dengan cedera ringan atau bahkan tanpa cedera sama sekali.

Penyebab
Sebagian besar patah tulang merupakan akibat dari cedera, seperti kecelakan mobil, olah raga atau karena jatuh.Patah tulang terjadi jika tenaga yang melawan tulang lebih besar daripada kekuatan tulang.
Jenis dan beratnya patah tulang dipengaruhi oleh:
- Arah, kecepatan dan kekuatan dari tenaga yang melawan tulang
- Usia penderita
- Kelenturan tulang
- Jenis tulang.
Dengan tenaga yang sangat ringan, tulang yang rapuh karena oste
Porosis atau tumor bisa mengalami patah tulang

Gejala
Nyeri biasanya merupakan gejala yang sangat nyata.
Nyeri bisa sangat hebat dan biasanya makin lama makin memburuk, apalagi jika tulang yang terkena digerakkan.
Menyentuh daerah di sekitar patah tulang juga bisa menimbulkan nyeri. Alat gerak tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga penderita tidak dapat menggerakkan lengannya, berdiri diatas satu tungkai atau menggenggam dengan tangannya.Darah bisa merembes dari tulang yang patah (kadang dalam jumlah yang cukup banyak) dan masuk kedalam jaringan di sekitarnya atau keluar dari luka akibat cedera.

Diagnosa

Foto rontgen biasanya bisa menunjukkan adanya patah tulang.Kadang perlu dilakukan CT scan atau MRI untuk bisa melihat dengan lebih jelas daerah yang mengalami kerusakan.Jika tulang mulai membaik, foto rontgen juga digunakan untuk memantau penyembuhan.

PENGOBATAN

Tujuan dari pengobatan adalah untuk menempatkan ujung-ujung dari patah tulang supaya satu sama lain saling berdekatan dan untuk menjaga agar mereka tetap menempel sebagaimana mestinya.
Proses penyembuhan memerlukan waktu minimal 4 minggu, tetapi pada usia lanjut biasanya memerlukan waktu yang lebih lama.
Setelah sembuh, tulang biasanya kuat dan kembali berfungsi.Pada beberapa patah tulang, dilakukan pembidaian untuk membatasi pergerakan.
Dengan pengobatan ini biasanya patah tulang selangka (terutama pada anak-anak), tulang bahu, tulang iga, jari kaki dan jari tangan, akan sembuh sempurna.Patah tulang lainnya harus benar-benar tidak boleh digerakkan (imobilisasi).

Imobilisasi bisa dilakukan melalui:
• Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.
• Pemasangan gips : merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah
• Penarikan (traksi) : menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota gerak pada tempatnya. Sekarang sudah jarang digunakan, tetapi dulu pernah menjadi pengobatan utama untuk patah tulang pinggul.
• Fiksasi internal : dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang. Merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang pinggul dan patah tulang disertai komplikasi.Imobilisasi lengan atau tungkai menyebabkan otot menjadi lemah dan menciut. Karena itu sebagian besar penderita perlu menjalani Fisioterapi.

Terapi dimulai pada saat imobilisasi dilakukan dan dilanjutkan sampai pembidaian, gips atau traksi telah dilepaskan.
Pada patah tulang tertentu (terutama patah tulang pinggul), untuk mencapai penyembuhan total, penderita perlu menjalani physioytherapy selama 6-8 minggu atau kadang lebih lama lagi.

Diagnosa pada kasus spinal cord injury


reposting by: sterno


Diagnosa pada kasus spinal cord injury ditegakkan berdasarkan anamnesa dan hasil pemeriksaan motorik, sensorik, serta otonom.

1. Anamnesa.
Pada kasus yang disebabkan karena trauma, seringkali ditemukan oleh karena jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, benturan pada tulang belakangnya, atau karena whiplash injury yang kesemuanya itu dapat mengakibatkan gangguan rasa raba dan gangguan gerak.

Jikalau karena tumor, penderita biasanya mengeluh rasa nyeri tulang yang sering disebut sebagai kram; terkadang ditemukan pasien mengalami hiperkalsemia; bila primernya dari kanker payudara sering timbul nyeri dan patah tulang (patah tulang patologis), primernya berasal dari paru-paru ditemukan pada penderita diatas umur 40 tahun dan usia rata-rata pasien 55 tahun, dan terdapat riwayat merokok; adanya hematuria (adanya darah dalam air kemih) merupakan tanda yang paling sering ditemukan; primernya dari kanker prostat ditegakan berdasarkan pemeriksaan kadar PSA (Prostat Spesific Antigen) dan atau prostat asid fosfatase.

pada pemeriksaan colok dubur teraba adanya benjolan, ditemukan metastase tulang baru akan tampak pada pemeriksaan radiodiagnostik apabila telah terjadi demineralisasi sebanyak 50 -- 70%, dilakukan pemeriksaan dengan strontium-85 ditemukan tanda-tanda metastasis, otopsi atau biopsi yang mengandung sel-sel anak sebar tumor ganas. Penderita akan mengeluh kelemahan gerak dan kehilangan sensasi pada anggota tubuhnya.

Dan jika penyebabnya dikarenakan infeksi, ditemukan penurunan kadar Hb, peningkatan laju endap darah, tes rapid IgG anti TB yang positif, BTA (bakteri tahan asam) yang positif, spesimen sputum dan cairan lambung yang positif, pemeriksaan mantoux test yang positif, pemeriksaan radiologik berupa X-foto thorax, X-foto vertebra, biopsi tulang untuk memastikan terjadinya infeksi dan menyingkirkan neoplasma sebagai diagnosa banding. Gejala klinisnya pasien merasakan kelemahan gerak pada anggota tubuhnya serta penurunan sensasi.

Penyebab utama karena degeneratif, pasien sulit menentukan kapan penyakit mulai timbul, adanya riwayat kecelakaan, infeksi, dan yang diingat sebagai penyakit; penyakit yang sama dalam keluarga; ditemukan bilateral simetris, mula-mula hanya mengenai satu anggota gerak atau salah satu sisi tubuh, tetapi dalam proses selanjutnya menjadi simetris; pada cairan serebrospinalis kadang-kadang terdapat sedikit peningkatan protein, tetapi pada umumnya tidak menunjukan kelainan yang berarti; secara radiologis terdapat pengecilan volume disertai perluasan ruang cairan serebrospinalis; pemeriksaan neuroimaging dapat menunjukan kelainan tertentu sehingga dapat membantu menyingkirkan golongan penyakit tertentu.

Biasanya pada kasus central cord syndrome, sering kali ditemukan pada cedera hiperekstensi pada vertebra cervicalis, yang biasanya terjadi pada orang tua. Pasien mengalami kelemahan yang lebih parah pada anggota gerak atas dibanding dengan anggota gerak bawah, dan sering dijumpai kehilangan sensoris pada kedua anggota gerak yang bersifat pemanen.

Brown sequard syndrome, biasanya ditemukan pada closed injury, a stab wound, atau karena hemisection terhadap spinal cord. Pasien biasanya mengeluh nyeri mula-mula di pungggung dan kemudan di sepanjang radix dorsalis. Rasa nyeri diperberat oleh gerakan, batuk, bersin atau mengejan, dan paling berat terjadi pada malam hari. Pada anterior cord syndrome, sering kali ditemukan pada kasus trauma, maupun non trauma. Pada kasus trauma biasanya berupa jatuh dari ketinggian dalam posisi duduk, atau terlentang, serta akibat kecelakaan lalu lintas. Sedangkan pada non trauma sering kali ditemukan pada kasus trombosis pada arteri spinal, neoplasma, atau adanya aneurisma pada aorta.

2. Tanda vital.
Tanda-tanda vital merupakan empat parameter tubuh yang meliputi tekanan darah, denyut nadi, pernafasan, dan suhu tubuh. Bila terjadi pada lesi tinggi didapatkan tekanan darahnya meningkat, denyut nadinya meningkat, terkadang sesak, dan suhu tubuh meningkat. Pada lesi rendah ditemukan tekanan darahnya normal atau bahkan menurun, denyut nadinya menurun, pernapasannya normal. Tanda-tanda vital ini bagi fisioterapist hanya sebagai dasar untuk menentukan tindakan selanjutnya.

3. Pemeriksaan reflek.
Pada pemeriksaan reflek, pada amyotropic lateral sclerosis tipe progressive muscular atrophy ditemukan adanya atrofi pada otot-otot kaki dan paha dengan reflek tendon negatif atau menurun. Tipe progressive bulbar palsy ditemukan jaw jerk yang posiif, sedangkan pada tipe primary lateral sclerosis ditemukan spatisitas dari otot-otot badan dan anggota gerak, tidak dijumpai adanya atrofi, reflek regang yang meningkat dan reflek plantar extensor bilateral. Untuk kasus tabes dorsalis terjadi penururnan reflek. Jika multiple sclerosis ditemukan spastik yang progresif, reflek regang meningkat dan hilangnya reflek superfisial, sedangkan untuk kasus postero sclerosis reflek tendon bisa menurun atau meningkat, reflek patologis positif, dan pada siringomieli terjadi lesi Upper Motor Neuron (UMN). Apabila cedera mengenai spinal cord, maka dapat terjadi peningkatan reflek fisiologi dan reflek patologinya positif, sedangkan pada kasus cauda equina syndrome dan conus medullaris syndrome, reflek fisiologinya menurun dan reflek patologinya negatif.

4. Pemeriksaan sensorik.
Pada kasus central cord syndrome, sensorik yang berada pada bagian sacral masih baik dan sensorik pada level setinggi lesi lebih berat daripada di bawah lesi. Untuk kasus brown sequard syndrome terdapat gangguan sensorik pada bagian kontralateral di bawah lesi, pada kasus anterior cord syndrome terdapat gangguan sensorik nyeri dan suhu di bawah lesi, serta pada conus medullaris syndrome adanya gangguan sensasi menurun bahkan hilang. Pada frankel A, fungsi sensorik tidak ada di bawah lesi, pada frankel B,C,D,E terdapat sensorik di bawah lesi. Kasus tabes dorsalis, terjadi hilangnya sensasi proprioseptif dan terlambatnya reaksi nyeri. Pada kasus siringomieli hilangnya rasa nyeri dan suhu sesuai dermatom, sedangkan rasa raba masih berfungsi. Apabila terjadi spinal muscular atrophy tidak terdapat gangguan sensasi, sedangkan pada kasus amyotrophic lateral sclerosis, terdapat gangguan rangsangan sentuhan halus dan membedakan tekanan, adapun pada kasus yang disebabkan karena tumor dan infeksi, sering kali ditemukan gangguan rasa raba, nyeri, suhu sesuai level dermatom, serta propioseptiknya terganggu.

5. Pemeriksaan motorik.
Pada kasus central cord syndrome, terdapat kelemahan yang lebih berat pada ekstremitas atas daripada ekstremitas bawah, dan jika ditemukan kasus brown- sequard syndrome, fungsi motorik berkurang pada bagian ipsilateral dan pada anterior cord syndrome menyebabkan kehilangan motorik pada kedua anggota gerak atas dan bawah, serta pada conus medullaris syndrome, ditemukan kelemahan pada anggota gerak bawah.
Jika disebabkan karena tumor dan infeksi, terjadi kelemahan atau kelumpuhan pada anggota geraknya sesuai level dermatom.

Sedangkan untuk frankel A dan B, tidak didapatkan fungsi motorik dibawah lesi, pada frankel C terdapat kelemahan motorik dengan nilai kurang dari tiga, pada frankel D terdapat kelemahan motorik dengan nilai otot lebih dari tiga dan kurang dari lima, dan pada frankel E, motoriknya normal. Adapun pada kasus amyotrophic lateral sclerosis gejala awal terjadi kelemahan otot-otot ekstremitas bawah, sedangkan otot-otot ekstremitas atas masih baik, serta pada kasus multipel sklerosis, gejala motoriknya terdapat kelemahan pada otot-otot kecil.

Cidera Spinal Cord

Cedera adalah suatu kondisi trauma yang menyebabkan terganggunya fungsi. Banyak faktor yang menyebabkan cedera pada spinal cord, misalnya kecelakaan lalu lintas, akibat jatuh dari ketinggian, atau terkena infeksi pada vertebra. Penanganan yang terlambat bisa mengakibatkan kehilangan fungsi sensorik dan motorik dari tingkat ringan hingga yang berat.

Spinal cord injury merupakan salah satu penyebab utama disabilitas neurologis akibat trauma, infeksi, neoplasma, degeneratif, maupun oleh karena idiopatik yang dapat menimbulkan kecacadan permanen sehingga penderita harus berbaring di tempat tidur atau duduk di kursi roda karena tetraplegi atau paraplegi. Menurut The national spinal cord injury data research centre memperkirakan ada 10.000 kasus baru setiap tahunnya di Amerika serikat. Angka insidensi paralisis komplit diperkirakan 20 per 100.000 penduduk, dengan angka tetraplegi 200.000 per tahunnya. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan penyebab utama spinal cord injury dan biasanya terjadi pada usia muda 15 hingga 35 tahun.

Sumber cedera sekunder mencakup fragmen-fragmen tulang yang mendesak ke dalam canalis spinalis, meregangkan atau memotong cord dan jaringan vaskuler sekitar ligamen serta spasme otot, yang menyebabkan kompresi cord. Ketidakstabilan mekanik berperan pada terjadinya penekanan pada cord maupun pembuluh darah yang menyebabkan kerusakan struktur lebih lanjut. Faktor sistemik (termasuk tekanan darah dan fungsi paru) yang sangat mempengaruhi oksigenasi dan perfusi, akan mempengaruhi jumlah cedera sekunder.

Keluhan-keluhan penderita spinal cord injury sangat bervariasi. Sering timbul kelumpuhan, baik sebagian maupun total. Dalam menangani kasus spinal cord injury dibutuhkan kerja sama antara medis dengan para medis termasuk fisioterapis karena pasien spinal cord injury pada umumnya sering mengalami keterbatasan gerak dan fungsi. Dalam hal ini peran fisioterapis sebagai para medis sangat diperlukan untuk menangani penderita tersebut agar dapat melakukan aktifitas fungsionalnya semaksimal mungkin.
Spinal cord injury adalah kerusakan saraf pada canalis spinalis yang menyebabkan hilangnya fungsi sensorik dan motorik dari tingkat ringan hingga yang berat. Spinal cord injury mengakibatkan terganggunya konduksi sensorik dan motorik. Spinal cord injury dapat dibagi menjadi komplit dan inkomplit. Komplit adalah istilah yang digunakan jika fungsi sensorik dan motorik di bawah level lesi tidak ada, sedangkan inkomplit berarti jika pemeliharaan fungsi sensorik dan motorik di bawah lesi masih ada. Gangguan ini dapat mengakibatkan paraplegi dan tetraplegi.

Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu, dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara, memulihkan gerak, dan fungsi tubuh sepanjang rentang kehidupan, sedangkan terapi latihan adalah salah satu metode dari fisioterapi yang berupa latihan-latihan khusus untuk mengembalikan atau memperbaiki keterbatasan kapasitas fisik dan fungsinya.

Selasa, 14 April 2009

Nyeri Leher ( CRS )

diposting by: sterno

Tanya:
Dokter, saya mempunyai keluhan sering nyeri pada leher dan kadang menjalar ke daerah bahu kanan. Hal ini sudah saya rasakan sejak 2 bulan yang lalu. Saya rasakan kadang sangat mengganggu kegiatan saya. Saya sudah dirontgen dan dikatakan terdapat perkapuran pada tulang leher saya. Sakit berkurang setelah minum obat tetapi sering kambuh.Saya seorang laki-laki dan berusia 40 tahun. Mohon bantuan dokter. Terima kasih sebelumnya. (Ibrahim, Pontianak)

Jawab:
Yth Bpk Ibrahim, nyeri leher yang bapak derita kemungkinan adalah akibat adanya perkapuran pada tulang leher bapak yang dalam istilah kedokteran disebut sebagai Spondilosis Cervicalis. Akibat adanya perkapuran ini dapat menyebabkan terjadinya penyempitan pada lubang tempat keluarnya saraf-saraf tepi (saraf spinalis) yang terdapat di tulang belakang leher tersebut. Dimana saraf spinalis tersebut selain mempersarafi daerah leher juga ke daerah bahu dan lengan, juga daerah lainnya tergantung jenis sarafnya.

Karena itu sering menyebabkan keluhan nyeri pada leher, kadang juga dirasakan nyeri yang menjalar ke bahu atau lengan, tergantung jenis saraf yang terjepit. Selain nyeri juga dirasakan kaku pada otot-otot yang berada diatas tulang leher yang mengalami gangguan.

Spondilosis Cervicalis seringkali dikarenakan terdapatnya trauma berulang dan dalam jangka waktu lama pada tulang leher, misalnya sering melakukan gerakan-gerakan menyentak sambil membunyikan tulang leher, posisi tidur dengan bantal yang terlalu tinggi dan sebagainya.

Perkapuran yang sudah ada umumnya tidak dapat dihilangkan, yang dapat dilakukan adalah menjaga supaya perkapuran yang telah terjadi tidak bertambah luas sehingga menimbulkan keluhan lebih banyak dan berusaha mengurangi nyeri yang terjadi.
Selain obat-obatan yang diminum sesuai dengan petunjuk dokter, diperlukan juga penanganan lainnya seperti program rehabilitasi medik.

Baca selangkapnya
program rehabilitasi nyeri leher

Rabu, 08 April 2009

Luka Bakar ( Combustio )

created and posting by: sterno

Definisi LB:
Luka Bakar adalah yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan benda yang menghasilkan panas ( api, cairan panas, listrik, dll)atau zat-zat yang bisa membakar ( asam kuat, basa kuat)

Luka bakar adalah jenis luka, kerusakan jaringan atau kehilangan jaringan yang diakibat sumber panas, suhu dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan kimiawi, cahaya, radiasi dan friksi.

Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang terkena luka bakar, tingkat keparahan, dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut.

Luka bakar dapat merusak jaringan otot, tulang, pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan. Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock, infeksi, ketidak seimbangan elektrolit ( inbalance elektrolit ) dan masalah distress pernafasan.

Selain komplikasi yang berbentuk fisik, luka bakar dapat juga menyebabkan distress emosional ( trauma ) dan psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka ( scar ).

Diagnosis

Diagnosis luka bakar meliputi:

1. Etiologi
2. Derajat luka bakar
3. Luas luka bakar

Etiologi

Luka bakar dapat disebabkan oleh banyak hal:

1. Panas (misal api, air panas, uap panas)
2. Radiasi
3. Listrik
4. Kimia
5. Laser

Bahan kimia chemicals yang dapat menyebabkan luka bakar adalah Asam kuat atau basa kuat acids atau bases.[1] Chemical burns are usually caused by caustic chemical compounds, such as sodium hydroxide, silver nitrate, and more serious compounds (such as sulfuric acid and Nitric acid).[2] Hydrofluoric acid Dapat menyebabkan kerusakan dari tulang jenis kerusakan yang terjadi sulit dibuktikan.[3]

Derajat Luka Bakar

Klasifikasi dari derajat luka bakar yang banyak digunakan di dunia medis adalah jenis "Superficial Thickness", "Partial Thickness" dan "Full Thickness" dimana pembagian tersebut didasarkan pada sejauh mana luka bakar menyebabkan perlukaan apakah pada epidermis, dermis ataukah lapisan subcutaneous dari kulit.